Putu Agus Suyadnya

Adherents of New Dynamism

150 x 150 cm
Acrylic on Canvas
2011

Putu Agus Suyadnya

The First Defense

150 x 130 cm
Acrylic on Canvas
2011

Ida Bagus Purwa

Untitled 1

200 x 140 cm
Acrylic, Oil, Charcoal on Canvas
2010

Ida Bagus Purwa

What Next

160 x 180 cm
Charcoal, Oil, Acrylic on Canvas
2011

I Kadek A. Ardika

I Will Survive

155 x 136 cm
Acrylic on Canvas
2011

I Kadek A. Ardika

Please Take My Head...!

55 x 20 x 37 cm
Fiberglass, Pint
2011

I Kadek A. Ardika

Yang Kecil Berusaha Sok Bijak

70 x 55 cm (2 panel)
Acrylic on Canvas
2011

I Nyoman Agus Wijaya

Go Green

70 x 60 x 85 cm
Galvanise Plate
2011

I Nyoman Agus Wijaya

Mencari Kesegaran

Variable Size
Galvanise Plate
2011

I Putu AAn Juniartha

My Hand

150 x 150 cm
Acrylic on Canvas
2011

I Putu AAn Juniartha

One Heart

150 x 150 cm
Acrylic on Canvas
2011

I Putu Erdiawan

Beda Itu Indah

200 x 150 cm
Acrylic on Canvas

I Putu Erdiawan

Mencari Aku

250 x 110 cm
Acrylic on Canvas
2011

Ketut Susena

Sukma Merapi

200 x 140 cm
Oil on Canvas
2011

Made Gede Putra

The Palette of Sky

85 x 65 x 27 cm
Sponge and Glue
2011

Nyoman Erawan

Kriya 1

300 x 100 cm
Acrylic, Digital Print on Canvas
2011

Nyoman Erawan

Kriya 2

300 x 100 cm
Acrylic, Digital Print on Canvas
2011

Peter Dittmar

Color Window No. XI

100 x 100 cm
Acrylic on Teak Board
2010

Peter Dittmar

Color Window No. VI

100 x 100 cm
Acrylic on Teak Board
2010

Peter Dittmar

Color Window No. VI

100 x 100 cm
Acrylic on Teak Board
2009

Putu Adi Gunawan

Meniti Levitasi

80 x 75 x 70 cm
Bronze
2010

Putu Wirantawan

Gugusan Citra Batin 1236011

Variable Size
Boltpoint on Paper
2011

Ronald Wigman

Lady Justice

190 x 190 cm
Acrylic on Canvas
2011

Ronald Wigman

My Studio

90 x 190 cm (2panel)
Acrylic on Canvas
2011

Ronald Wigman

My Tools

90 x 190 cm (2panel)
Acrylic on Canvas
2011

Ronald Wigman

The Keys To...

190 x 190 cm (4panel)
Acrylic on Canvas
2011

Samarpan

Untitled 1

Samarpan

Untitled 1

Teja Astawa

Ngelawang

200 x 140 cm
Acrylic on Canvas
2011

Teja Astawa

Restricted Area

200 x 140 cm
Acrylic on Canvas
2011

Walter van Oel

The Mystery if Jezus 1

190 x 190 cm
Mixed Media on Canvas
2011

Walter van Oel

The Mystery if Jezus 1

190 x 190 cm
Mixed Media on Canvas
2011

Walter van Oel

The Mystery if Jezus 1

190 x 190 cm
Mixed Media on Canvas
2011

Walter van Oel

The Mystery if Jezus 1

190 x 190 cm
Mixed Media on Canvas
2011

Wayan Upadana

Amnesia Culture

Diameter 120 cm
Polyester Resin, Phosphor, Acrylic
2011

Wayan Upadana

Display Ruang Gelap

← back to Past Exhibitions Silang-Budaya Perupa Kontemporer Bali dan Negeri Manca

Sawen Awak (2011)

English VersionArtikel oleh Wayan Kun Adnyana   |   Pengantar Galeri oleh AAB Tony Hartawan

Sejak abad ke-8 Masehi, dengan penemuan tablet-tablet tanah liat berisi mantra Budha, Bali sejatinya telah memasuki fase sejarah. Sejarah yang dimulai dengan baur-padu berbagai anasir budaya. Setidaknya di awal ditandai pengaruh Budha yang datang dari daratan India dan China.

Seribu tahun lebih, Bali berjalan dalam kredo kehidupan budaya berbhineka. Berbagai produk budaya hidup berdampingan. Etik laku toleran menjadi simpul-simpul keseharian. Sirkuit pergaulan sehari-hari dipahami sebagai jalan sejarah untuk saling menerima.

Sementara sejak awal abad ke-20, pemikiran-pemikiran modernis dibawa para "Pilgrimage" (peziarah budaya) Barat ke Bali, semisal Gregor Krause, Van der Tuuk, Roelof Gorris, atau Walter Spies dan Rudolf Bonnet (dalam hal seni rupa). Hadirnya para tetamu Barat dengan beragam latar budaya menambah lapis-lapis keberagaman Bali. Termasuk pula lahir sekolah-sekolah formal dengan beberapa silabus pelajaran bersumber dari Barat. Tatanan dunia sekolah seperti ini memuarakan perubahan mentalitas manusia Bali.

Sebagaimana di akhir dasawarsa '20-an, serta pada seluruh dasarwarsa '30-an di Bali ditengarai terjadi fenomena unik, yaitu intervensi langsung dari seniman Barat, yang memberikan corak tersendiri pada perkembangan seni pedesaan Bali selanjutnya. Perkembangan itu lazim disebut gerakan Pita Maha (Couteau, 2003: 107).

Walter Spies diyakini telah memainkan peranan tak langsung dalam menstimulus beberapa pelukis Bali pada bentuk-bentuk ekspresi baru. Sebagaimana pada tahun 1933-1934, pelukis berbakat Dewa Gde Meregeg dari Desa Padang Tegal, Ubud, menghasilkan karya lukis walaupun lebih dekoratif, nampak mengumandangkan karya Spies. Sementara Bonnet selain tampil sebagai pengkritik yang tajam, dan kolektor seni lukis Bali, juga membantu para seniman memperoleh bahan-bahan, dan mengajar keterampilan-keterampilan tertentu. Gaya melukisnya sendiri lebih akademis ketimbang Spies, dan bahkan ia mencoba dengan hati-hati menghindari mempengaruhi gaya para seniman Bali secara langsung (Holt, 2000: 259).

Kedatangan perupa Barat ke Bali, setidaknya berawal dari motivasi sebagai juru gambar. Kedatangan sebagai juru gambar atau juru lukis dari Negeri Belanda ditugasi mendokumentasi Nederlands Indie dengan visualisasi gambar-gambar sebagai pelengkap laporan-laporan mereka - gambar berfungsi sebagai pengganti foto yang pada waktu itu belum ada. Datanglah dalam kesempatan itu pelukis-pelukis seperti: Theodorus Bik, Ernest Hardouin, Isidore van Kinsbergen, A.A.J. Payen dan Frans Lebret untuk tugas-tugas dokumentasi tersebut (Soedarso, 2006: 25). Pelukis Arie Smith juga datang dengan tugas yang demikian di awal-awal kedatangannya ke Indonesia, sebelum akhirnya memilih sebagai pelukis profesional dan menetap di Bali.

Motivasi berikut karena ilusi Bali sebagai "surga terakhir", lebih-lebih setelah beredar foto-foto idyllic wanita Bali sedang mandi oleh fotografer G. Krause; sesungguhnya pengangkatan Bali sebagai surga tropis ini adalah kelanjutan dari tren yang dimulai Gauguin pada akhir abad ke-19, ketika dia meninggalkan Perancis untuk bermukim dan berkarya di Tahiti. Hingga berbondong-bondonglah aneka "penakluk juru mimpi" ke Bali yang entah dengan menjadi petualang, hartawan, cendikiawan ataupun seniman (Couteau, 2003:107-108).

Seperti contoh, Walter Spies (1895-1942) datang ke Bali tahun 1927, setelah sebelumnya secara tidak sengaja bertemu dengan bangsawan Ubud, Cokorda Gede Raka Sukawati di Keraton Yogyakarta - ketika itu Spies adalah dirigen/pelatih orkestra Barat di Keraton Yogyakarta. Cokorda mengundang Spies untuk datang ke Bali. Ketika ia datang, ia menulis kekagumannya, "di Ubud yang indah dan sepi ini saya mendirikan sebuah rumah bambu, dan dalam sekejap saya akan seperti hilang ditelan oleh alam" (Jordt, tanpa tahun: 2).

Rudolf Bonnet (1895-1978) yang datang ke Bali beberapa tahun setelah Spies, menghimpun para pelukis Bali dalam wadah Pita Maha tahun 1930-an. Spies dan Bonnet hidup di tengah masyarakat Ubud di bawah naungan puri. Di tahun itu, di Bali berkembang seni komersil dengan kemerosotan mutu. Maka lahir gagasan untuk mengintervensi seni itu ke arah yang sesuai dengan tuntutan estetis mereka. Agaknya intervensi "langsung" itu, terbatas pada pemberiaan material seni rupa, bantuan pemasaran, dan nasehat sesaat. Namun harus juga disadari bahwa Spies dan Bonnet, yang didukung oleh kaum puri itu, dianggap "guru" oleh seniman tradisional Bali, dan karena itu karya mereka dijadikan panutan (Couteau, 2003: 108).

Seorang Ida Bagus Made Poleng, salah satu pelukis terdepan Pita Maha yang terkenal keras dalam berpendirian, mengungkapkan kekagumannya pada karya Spies, "Selama ini hanya tuan Tepies (maksudnya Walter Spies) yang saya kagumi, dia memang pintar. Dia bisa melukis capung gantung, persis seperti aslinya, Tapi, tuan Tepies tidak pernah memamerkan karya-karya seperti itu" (Hartanto, 1998: 3).

Memang ada peran Bonnet dan Spies dalam penampilan seni lukis Bali ke arah seni lukis yang baru. Tetapi sepuluh Bonnet dan sepuluh Pita Maha tidak akan dengan sendirinya menumbuhkan seni lukis baru Bali jika tidak terdapat kelenturan jiwa pelukis Bali sendiri untuk menempatkan hal-hal baru dan kesiapan mereka untuk berubah (Yuliman, 2001: 301).

Kemampuan pemikiran dan keterampilan indigenos harus diakui memang melekat pada diri seniman tradisional Bali. Ketika pelukis Barat seperti Spies dan Bonnet datang, termasuk pula saat era Arie Smith dengan menghimpun kelompok seniman Penestanan, Ubud, tentu saja potensi indigenos itu berkembang ke arah konstruktif. Sirkuit pergaulan seperti itu pula yang memuarakan kegairahan dan semangat kreatif di kalangan pelukis Bali.

Sekelumit fenomena kreatif yang berlangsung guyub antara seniman negeri Manca dan seniman Bali di era '20-an, hingga '50-an, memang sedikit mengalami pergeseran di tahun-tahun berikut, terlebih ketika Bali telah sepenuhnya menjadi tujuan wisata dunia. Bagaimana pun ketika proyek pariwisata memasuki pulau dewata ini, cara pandang dan perilaku sehari-hari manusia Bali bergerak dengan lapis-lapis pilihan hidup yang semakin kompleks. Ada semacam perubahan orientasi dari kehidupan agraris ke sektor jasa pariwisata yang ketat akan waktu.

Pariwisata juga memuarakan sisi negatif dari pola konsumsi seni, diantaranya seni tidak jarang dibaca sebagai sekedar benda indah untuk mendatangkan uang. Sehingga yang diutamakan seringkali kinerja produksi barang seni. Tradisi berolah pikir, dan juga ruang spiritis acap terlupakan. Tidak mengherankan kemudian, sangat banyak gagasan-gagasan seni genial yang digelontorkan seorang perupa, tiba-tiba dijiplak dan diproduksi secara massal. Kondisi inilah yang akhirnya memicu stigma, di mana seni rupa Bali sering dituduh sebagai seni rupa turistik.

Selain berimplikasi pada perilaku seni yang negatif, harus diungkap pula bahwa pariwisata dalam beberapa hal juga layak dicatat positif. Seperti terciptanya ruang sosialisasi yang semakin meluas di Bali. Termasuk menambah plural khasanah pergaulan, dan ekspresi seni. Perupa Bali hari ini selain berhadapan dengan tabiat "industrialisasi seni" dan juga hantu stigma turistik, juga berhadapan dengan sirkuit pergaulan global yang menitipkan peluang kemajuan. Sebagaimana mereka yang harus tumbuh, belajar, dan menjalani pilihan-pilihan hidup dalam komunitas multikultur. Belajar dalam medan produksi ilmu pengetahuan yang juga semakin bergerak cepat dan canggih.

Ketika di tahun '20-an dan '30-an berlangsung kreativitas seni kolaboratif antara perupa Bali dengan Negeri Manca, di masa kini hal yang sama juga tetap berlangsung walau dalam format yang berbeda. Terbukti berbagai pemanggungan seni rupa acap memakai simpul kolaborasi. Termasuk mendampingkannya dalam sebidang ruang pentas bersama.

Generasi perupa Negeri Manca yang datang ke Bali kurun waktu '90-an hingga 2000-an ini memang menemukan Bali yang tidak lagi se-eksotik pada era '20-an. Etos kerja kreatif perupa di seluruh dunia pun telah berada pada standar profesional tertentu yang hampir sebangun. Sehingga parameter bagaimana seniman Negeri Manca dan Bali berinteraksi akhirnya mengalami pergeseran sifat, bentuk, dan juga instrumen pendukung. Kini, hubungan kolaboratif lebih bersifat hubungan profesional, dengan kontrak dan pola kerja yang terproyeksi secara tegas, baik metode, program, dan juga sasarannya.

Pameran ini berkeinginan untuk menguatkan pemanggungan silang-budaya sebagaimana telah dirintis sejak generasi tahun '20-an itu, dengan mengundang perupa-perupa Negeri Manca berkarya di Bali hari ini, bersanding dengan perupa Bali. Membaca pergaulan mereka sehari-hari yang menyurat potret silang-dialog saling menguatkan.

Hal penting yang perlu ditimbang tentu saja berkait dengan potensi kesadaran personal perupa (baik perupa Bali maupun Negeri Manca) dalam lintas pergaulan kreatif tersebut, yang memunculkan capaian artistik berkarakter, dan juga berkenaan dengan eksplorasi kreatif bersifat khusus. Makna "Sawen Awak" berada pada poros kerangka kreatif tiap pribadi. Sawen Awak di masa kini dipahami sebagai penghargaan kepada ruang jelajah kreatif, medan eksperimentasi, dan juga tabiat profesional seorang perupa. Sementara dalam kerangka mentalitas, lebih pada pembiakan jiwa-jiwa toleran, saling menyambut, etos pergaulan dalam kehangatan sapa, dan juga kerja kolaboratif. Inilah sederet spirit yang berkehendak untuk ditularkan dalam pameran ini.

Untuk itulah, kuratorial mengundang perupa Bali dan juga Negeri Manca yang memilih Bali sebagai ruang kreatif. Perupa-perupa yang sehari-hari hidup dan tumbuh dalam sirkuit pergaulan global. Sementara Bali sebagai entitas ruang senantiasa tetap memberi roh. Sinergisme saling menyambut ini menguatkan sekaligus semakin menambah plural khasanah cita visual dan konsep dari seni rupa kontemporer Bali.

Jalan Bersanding

Sebagaimana terjelaskan tadi, jalan seni perupa Negeri Manca dan perupa Bali masa kini di Bali hampir dihadapkan pada tendensi global; sirkuit imajinasi, olah kreatif, dan lain-lain menyangkut ruang sosial profesional yang berlangsung dalam spirit tanding yang sama. Ibarat pemain bola, dari mana pun asal negerinya tidak begitu penting, yang dipentingkan adalah ruang kreatif yang bernama liga pertandingan dan kualitas personal pemain. Berbeda dengan era tahun '20-an dan '30-an, dimana seniman Bali nyaris berada pada tepian yang berseberangan dengan bobot potensi artistik juga pergaulan yang dimiliki seniman Barat ketika itu. Hari ini semua seniman profesional menghirup udara informasi yang sama.

Kondisi ini berkonsekuensi logis pada ruang komunikasi kreatif yang dibangun, yakni lebih pada jalan persandingan yang produktif. Ketika senjata kreatif, ruang imajinasi, ruang pergaulan yang dimiliki sama, iklim yang tercipta memang lebih bersifat kolaboratif. Paduan interaksi positif demi menunjuk pada penguatan sikap toleran.

Nama-nama perupa Negeri Manca yang turut dalam pameran ini adalah sederet perupa yang memandang Bali sebagai ruang spiritis yang menyimpan misteri-misteri intuitif. Perupa Samarpan (Jerman 1953), Peter Dittmar (Jerman 1945), dan Walter Van Oel (Belanda, 1942), berada pada medan yang nyaris sama dalam menyelami kehidupan spiritual manusia Bali. Sebagaimana dalam novel Eat, Pray, and Love, Elisabeth Gilbert menuliskan betapa dunia spiritis manusia Bali, yang diwakili oleh I Ketut Liyer - seorang seniman tradisional - berjalan seiring dengan modernisasi yang memasuki Bali. Berbagai artefak masa lalu yang berkaitan dengan dunia kepercayaan pada energi kosmik, hingga hari ini tetap dirayakan. Begitu juga berbagai ritual tradisi menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan. Penyelaman atas keyakinan-keyakinan spiritis seperti inilah yang ditemukan ketiga perupa Negeri Manca tadi.

Walter van Oel sesungguhnya telah melewati penjelajahan panjang di seantero wilayah-wilayah spiritual, seperti Tibet dan China, sebelum akhirnya memilih menetap di Bali. Pulau yang baginya menyimpan kekuatan energi kosmik luar biasa. Kini 12 tahun sudah, ia menemukan kedamaian batin di Bali, menjumput berbagai imaji visual dari artefak tradisi Bali, serta meyakini keuniversalan keyakinan spiritis manusia Bali tersebut.

Sementara Ronald Wigman (Belanda, 1954) mengenali Bali dari perspektif kehidupan domestik. Ia mempertanyakan dunia keseharian dengan pandangan-pandangan kritis. Pandangan Wigman menjadi penyanding bagaimana spiritis yang bersifat keilahian, dibaca dalam ruang-ruang domestik pribadi. Mempertanyakan eksistensi benda sehari-hari dalam pandangan spiritual hari ini.

Sementara perupa Bali dalam pameran ini diwakili perupa-perupa dari garis generasi yang beragam, yaitu Nyoman Erawan, Ketut Susena, Putu Adi Gunawan, Putu Wirantawan, Ketut Teja Astawa, Nyoman Agus Wijaya, Ida Bagus Putu Purwa, Wayan Upadana, Kadek Agus Ardika, Made Gede Putra, Agus Putu Suyadnya, Putu Erdiawan, dan Putu Aan Juniartha.

Erawan tentu perintis gerakan seni rupa kontemporer Indonesia yang tetap menatap secara seksama wilayah-wilayah lokalitas. Bagaimana pun ketika banyak pengamat mulai buka suara bahwa seni rupa kontemporer Indonesia cenderung berbau Barat, akhirnya beberapa kritikus dan kurator kembali memandang penting bagaimana wacana-wacana lokalitas diangkat dalam pandangan seni rupa kontemporer. Publik tentu memahami Erawan menempati posisi penting dalam pergerakan ini, bahkan jauh sebelum kontemporer yang serba "visual" meledak dan dirayakan pasar. Erawan mengenali konsep khaotis yang memuarakan keseimbangan dunia fisikal dan spiritis.

Perupa-perupa muda seperti Susena, Wirantawan, Teja Astawa, Purwa, Adi Gunawan, dan Agus Suyadnya juga secara sadar mengambil posisi sebagai generasi yang mengenali, mempelajari, dan sekaligus mempertanyakan tradisi. Bali menjadi ruang berimbang bagi lintasan pandang kekaguman, daya kritis, sekaligus pemicu daya hidup kreatif. Kutub yang mempertemukan perupa Negeri Manca dan Bali dalam energi kreasi dan juga silang-pandang keyakinan konsep artistik.

Denpasar, Juni 2011
Wayan Kun Adnyana

Daftar Bacaan

Claire, Holt. (1967), Art in Indonesia: Continuities and Change atau Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia (Penerj. R.M. Soedarsono), Arti.Line, Bandung, 2000

Couteau, Jean. (2003),"Wacana Seni Rupa Bali Modern" dalam Paradigma dan Pasar, (Ed. Adi Wicaksono, dkk), Yayasan Seni Cemeti, Yogyakarta

Couteau, Jean, & Wim J. van der Beek. (2005), Walter van Oel 2004-2005, Sharon's Co, Denpasar

Gilbert, Elisabeth. (2006), Eat, Pray, Love, Penguin

Hartanto. (1998), "Ida Bagus Made Jiwa Pusaka Ramuan Tanah" dalam katalog Pameran Lukisan Ida Bagus Made, Darga Gallery, Sanur

Jordt, Horst. (tanpa tahun), "Kehidupan dan Karya Walter Spies" (sebuah makalah lepas).

Soedarso Sp. (2006), Trilogi Seni: Penciptaan, Eksistensi dan Kegunaan Seni, Badan Penerbit ISI Yogyakarta, Yogyakarta.

Yuliman, Sanento. (2001), Dua Seni Rupa (Sepilihan Tulisan), Ed. Asikin Hasan, Yayasan Kalam, Jakarta.

Pengantar Galeri

Akhirnya, pameran seni visual Sawen Awak, sebuah perhelatan seni rupa yang mempertemukan perupa Negeri Manca dan Bali dapat terlaksana sesuai rencana.

Pameran ini dimaksudkan untuk menguatkan posisi dialogis-kolaboratif perupa Negeri Manca yang memilih Bali sebagai ruang kreatif, bersama perupa-perupa kontemporer Bali hari ini. Bagaimana pun, bacaan sejarah seni rupa nasional, tidak boleh menyampingkan posisi kreatif perupa-perupa luar negeri, terlebih bagi mereka yang memang memiliki kontribusi. Sejarah seni rupa era '20-an hingga '50-an telah begitu monumental mencatat keberadaan perupa Barat dalam petilesan sejarah seni rupa Nasional. Berbeda dengan yang terjadi sejak tahun '90-an, yang nyaris pencatatannya sangat minim. Untuk itulah, diharapkan pameran ini mampu mengorbitkan serpihan-serpihan geliat kreatif perupa Negeri Manca di Bali hari ini.

Menyandingkan pandangan dan capaian kreatif perupa Barat dengan perupa Bali, bertujuan untuk mengingatkan kembali bahwa di masa lalu ada sejarah kolaborasi dan interaksi yang guyub antara dua ranah budaya ini. Walau dalam tabiat yang sedikit berbeda tentu berbagai pola-pola kolaborasi tetap terjaga, baik dalam medan sosial keseharian, maupun dalam bentuk perhelatan seni rupa.

Kami, Tonyraka Art Gallery, bersama kurator Wayan Kun Adnyana mengajukan sanding-pandang perupa Negeri Manca dan perupa Bali dalam pemanggungan seni visual bertajuk Sawen Awak, capaian visual personal di tengah ruang interaksi silang budaya perupa berbagai negara.

Terimakasih kami haturkan kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pameran ini. Semoga ini kontribusinya semakin menjadi berarti bagi kemajuan seni rupa kita.

Ubud, Juni 2011
AAB Tony Hartawan