I Putu Sudiana 'bonuz'

Bayangan di Langit

180 x 180 cm
Acrylic on canvas
2011

I Putu Sudiana 'bonuz'

Blue Horizon

250 x 80 cm
Acrylic on canvas
2010

I Putu Sudiana 'bonuz'

Energy of Lines

200 x 130 cm
Acrylic on canvas
2011

I Putu Sudiana 'bonuz'

Full Moon 1

150 x 150 cm
Acrylic on canvas
2011

I Putu Sudiana 'bonuz'

Full Moon 2

150 x 150 cm
Acrylic on canvas
2011

I Putu Sudiana 'bonuz'

Full Moon 5

150 x 150 cm
Acrylic on canvas
2011

I Putu Sudiana 'bonuz'

Menjelang Terbenam

180 x 180 cm
Acrylic on canvas
2011

I Putu Sudiana 'bonuz'

Red in The Sky

180 x 180 cm
Acrylic on canvas
2011

I Putu Sudiana 'bonuz'

Refleksi Senja

195 x 195 cm
Acrylic on canvas
2011

I Putu Sudiana 'bonuz'

The Fly 1

150 x 150 cm
Acrylic on canvas
2011

I Putu Sudiana 'bonuz'

The Fly 2

150 x 150 cm
Acrylic on canvas
2011

I Putu Sudiana 'bonuz'

The Fly 3

150 x 150 cm
Acrylic on canvas
2011

I Putu Sudiana 'bonuz'

The Fly 4

150 x 150 cm
Acrylic on canvas
2011

← back to Past Exhibitions Solo Exhibition by I Putu Sudiana 'bonuz'

Inside of Bonuz (2011)

Curator & Article by Wayan Kun Adnyana

Antara Jalan Kreatif dan Spiritis Sehari-Hari

Apa yang bisa ditakar ketika inderawi pandang tertuju pada sesosok citra gambar? Sepertinya tidak cukup terpuaskan jika semata bertaruh pada indera mata. Ada rasa ingin tahu lebih jauh, menyangkut kondisi-kondisi emotif yang ada di balik serba visual itu.

Dalam praktik kritik seni, di sinilah dibutuhkan pola pendekatan jauh, yakni praktik kritik yang berkehendak memahami karya seni dari sisian sang pengarang dan bacaan atas "makna" yang telah terkonstruksi di ruang sosial seni. Bersisian dengan pencipta seni (baca:perupa), berarti pula menyusuri biografi kreatif perupa bersangkutan.

Saya lebih memercayai praktik kritik seni yang komprehensif, bagaimana bacaan dekat; mengurai utuh seluruh gejala visual, berpadu dengan bacaan jauh; kecermatan interpretasi atas makna dan kehadiran pengalaman sosial untuk mencerap dunia sehari-hari seorang perupa. Temali kedua perspektif pembacaan ini, paling tidak, akan mendekatkan pada konstruksi makna baru yang lebih utuh. Nirwan Dewanto menjelaskan, pembacaan dekat dapat mengenali karya seni sebagai pengetahuan sekaligus sumber penciptaan baru, dan bukan sebagai barang. Pembacaan jauh, mengurai ihwal riwayat pengarang, dari ranah yang melahirkan, dari segenap kuasa yang melembagakan (2005 : 11-12).

Saya mengafirmasi model kritik yang secara utuh mengartikulasi kedua perspektif baca ini. Saya memosisikan diri sebagai karib yang tidak saja melihat dan membaca, melainkan juga merasakan bagaimana seorang Putu Sudiana Bonuz berkarya dan melakukan aktivitas sosial seni. Berikut berpendirian untuk melakukan pembacaan dan interpretasi atas gejala visual dari karya Bonuz. Saya menimbang hubungan korelatif, dan bahkan persekutuan utuh antara karya dengan laku spiritis yang dijalani lelaki kelahiran Nusa Penida ini.

Saya tidak mungkin datang dari kekosongan dalam melihat kara-karya Bonuz yang saya pilih dalam pameran ini. Saya juga tidak mengingkari, bahwa posisi Bonuz sebagai perupa yang secara aktif membangun ruang dialog dengan saya selama proses kurasi, juga menentukan pemanggungan karya visual. Untuk itu ijinkan pembacaan saya lakukan dengan menyusun-padu proses dialog penuh rasa ini.

Suatu sore, dengan pernyataan penuh guyon, Bonuz mengatakan dirinya sering berdialog kecil tentang keagamaan, tentang meditasi dan yang berhubungan dengan spiritual. Dia bahkan menyatakan, dialog seperti ini, tidak dilakukannya sekali-dua kali. Beberapa pemangku dan para sahabatnya di beberapa tempat sering meminta alumnus seni rupa ISI Denpasar ini untuk ngobrol tentang hal yang berhubungan dengan spiritual. "Kalo Kun pernah baca status facebook ku....(tulisan spontan) pasti bisa menangkap tentang aktivitas otak ragane. Yen mebuaka ngorta aeng kewehne. Tapi raga sering juga diajak pemangku yang lain berbicara soal spiritual universal. (pang sing tenget) hehe...," tulis Bonuz yang dikirim melalui pesan singkat ke telepon seluler saya, pada Selasa, 18 Oktober 2011, pk 17.15 wita.

Apa yang disampaikan Bonuz dalam pesan singkatnya itu, memberi ketegasan bahwa dunia ideal dalam bacaan sebagai ruang spiritual, tidak menjadi semata kebutuhan individu dengan ide-ide spiritis pribadi. Bonuz dalam wilayah ini telah menjadi bagian dari konsensus publik; urusan spiritual juga menjadi semacam kesepakatan komunal. Pendeknya Bonuz, ulang-alik memerankan posisi individu dan publik dalam kerangka relasi spiritual. Menjadi beralasan kemudian ketika membaca jalan kreatif Bonuz, akan berjumpa pada deretan artefak seni rupa yang secara psikologis terasa mengobarkan ruang-ruang spiritis manusia timur.

Sejarah seni rupa dunia telah mencatatkan betapa ruang-ruang spiritual manusia tiap zaman terekspresi dalam karya visual. Dari adab paling primitif, lewat temuan patung tanah liat berupa stilisasi figurasi genetikal manusia; venus, di Bali dikenal dengan lingga dan yoni, sampai adab Renaisance dengan penggambaran berbagai ajaran religi, atau bacaan mitos dewa-dewa yang memengaruhi tradisi gambar wayang di dunia timur, ataupun sampai pada temuan abstraksi seperti dikobarkan Wassily Kandinsky; spiritualitas senantiasa aktual dalam karya seni rupa. Terbukti gejala spiritualitas juga tetap mewarnai praktik seni rupa kontemporer hari ini.

Karya Bonuz, paralel dengan tilas sejarah ini, di mana kondisi-kondisi kejiwaan dan aktivitas sehari-hari yang penuh dengan riwayat ritus, akhirnya bermuara pada visual karya. Bonuz memang tidak memilih jalan asketik yang ektrem, yang harus menjadi pertapa di hutan-hutan, tetapi memilih untuk tetap menjaga sosialita dunia seni bersama komunitas seniman kota, dan juga masyarakat desa.

Bonuz, seperti berjalan di antara spritualitas sebagai ritus dan aktivitas obsesif dalam batin. Dalam pewarisan tradisi ritus Hindu-Bali, Bonuz hadir sebagai “pemangku”, pemimpin jalannya upacara, terutama upacara adat di pura keluarga. Sementara dalam pendakian spiritis batin, ia melakukannya dengan melatih fisik dan pikiran. Intuisinya bermain-main di antara kerinduan untuk menuai jawaban atas hal-hal keilahian dengan memandang semesta alam sebagai ruang pijak. Keilahian dijelajahi dan dicari di alam yang tampak.

Simak misalnya karya lukisan dengan judul “Red in The Sky”, atau seri “Full Moon”, dan juga karya “Bayangan di Langit”, sangat terang menjelaskan betapa alam dijadikan tumpuan untuk mencari jawab atas obsesi penemuan ruang keilahian. Boleh jadi kesempurnaan Tuhan di bumi, nampak pada fenomena alam. Dalam visual karya, warna dan komposisi hadir spontanitas, yang diperjuangkan lebih pada eksplorasi keruangan imajiner dalam karya. Muatan rasa, dalam pengertiannya sebagai kondisi-kondisi batin menjadi dominan. Artinya, abstraksi hanya merepresentasikan ruang imaji tentang alam semesta. Bukan pada upaya peniruan kesan kenyataan fotografis, karena yang dipentingkan adalah akslerasi obsesi keilahian. Jawaban obsesi ini diketemukan pada fenomena alam semesta; antara visual yang bisa ditatap, dengan visual yang dirasa berdialog.

Karya-karya seni lukis yang dihadirkan pada pameran "Inside of Bonuz" (tajuk yang terinspirasi dari seri "Inside of Mecca", "Inside of Vatican" dan lain-lain oleh National Geographic) kali ini, memang lebih merepresentasikan abstraksi sebagai muara dari pengalaman batin. Hal paling diutamakan adalah mengemukanya kesan ruang imajiner. Abstrak sebagai riwayat formal elementer mulai ditinggalkan. Pesan yang sama juga bisa dipetik dari visual karya instalasinya yang bertajuk “Mempersembahkan Hati”, walau ada repetisi objek, tetapi secara kesan lebih menguak suasana spiritis.

Apabila sekarang ditautkan dengan puisi-puisi yang dia tulis di status facebooknya, ambil salah satu berjudul Suara Pagi Ini, ditulis purnama, awal Oktober 2011, berbunyi: “Setiap pagi//aku selalu disapa suara genta//juga suara kidung suci yang dikasetkan//berkumandang di seputaran rumah kecilku//tak mau kalah suara perkutut piaraanku//juga harum dupa//seperti bersinergi//tanpa komando//tapi merdu..merdu sekali//menyamankan jiwa//damaiā€¦!//Pemilik semesta kini hadir semakin dekat”. Paling tidak ada tiga hal yang diterangkan saling berkait; seisi semesta adalah energi pendorong (diwakili ungkapan: setiap pagi, suara genta, suara perkutut dan lain-lain); rasa dan intuisi merupakan media penerjemah (ungkapan: merdu dan menyamankan jiwa); keilahian adalah tujuan (ungkapan : Pemilik semesta). Apa yang ditulis ini, boleh jadi sebagai pengakuan spontan, betapa fenomena spiritis menjadi begitu mengikat obsesi batin dan tubuh.

Menjadi tidak berlebihan kemudian bila saya meringkas catatan ini dengan menyatakan, bahwa praktik seni rupa Sudiana Bonuz berjalan di antara riwayat ritus dan praktik batin untuk mencari makna keilahian. Fenomena alam, menjadi energi pendorong, sementara temuan-temuan gejala keilahian pada alam dibaca sebagai upaya pemenuhan kepuasan batin dan juga artistik seni rupa. Jadi, membaca karya Bonuz sudah semestinya menimbang dunia keseharian Bonuz, dalam konteks ini berkait dengan riwayat laku spiritual yang diyakini dan dilakukannya.

Yogyakarta, Oktober 2011
Wayan Kun Adnyana, kurator seni visual, tinggal di Yogyakarta.

Daftar Bacaan

Adnyana, Wayan Kun. 2007, Nalar Rupa Perupa, Buku Arti, Denpasar.

Dewanto, Nirwan. 2005, “Pembacaan Dekat atau Jauh? Melintas Sastra dan Seni Rupa” dalam Jurnal Kebudayaan Kalam, Edisi 22 tahun 2005, Yayasan Kalam, Jakarta.

Eliade, Mircea, 2002, Mitos Gerak Kembali Yang Abadi: Kosmos dan Sejarah (The Myth of The Eternal Return : Cosmos and History, 1991), penerjemah Cuk Ananta, Ikon Teralitera, Yogyakarta.